Menggugat Eksistensi

Apakah arti akal, ketika kalian yang mengeluarkan uang hanya untuk mengasahnya tak sanggup mencerna kata-kata pertolongan?

Apakah arti nurani ketika kalian hanya menjadikannya pajangan, menjadikannya alibi atas ketidakpedulian kalian terhadap suatu kesalahan?

Apakah arti sepasang matamu, ketika kalian tak sudi melihat ketimpangan dan penindasan di sekitarmu?

Apakah arti sepasang telingamu, ketika kalian begitu acuh mendengar rintihan dan jerit tangis kelaparan di luar sana?

Apakah arti bibirmu, ketika kalian hanya berteriak, meneriaki kesalahan penguasa, mengumbar slogan-slogan apatisme di atas hipokrisi belaka?

Apakah arti kulit yang menempel di tubuhmu, ketika kalian tak rela merasakan panas yang sama dengan panas yang membakar habis kulit kaum terbuang?

Lalu, apakah arti kehidupan bagimu saudaraku?

Iklan

Belenggu Tafsir

Sudah cukup lama rasanya tangan ini tidak menghasilkan tulisan-tulisan baru. Otak pun terasa beku jika harus dipaksa membedah gejala-gejala sosial terkini yang mana mengharuskan sirkulasi pemikiran yang segar dan jernih. Waktu dan keadaan memang merubah kita semua. Jiwa dan raga seakan terpaku menatap dinamisnya lingkungan dalam beradaptasi, sedangkan kita hanya duduk terdiam menghisap rokok yang menentramkan diri. Seolah menahan tubuh dan pikiran untuk ikut bergejolak dalam pusaran konflik kehidupan. Betapa egoisnya kita selama ini.

Kalau boleh mengutip kalimat dari Soe Hok Gie, ia pernah berujar, “yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah ketika kita memiliki cinta, dapat beriba hati dan merasakan kedukaan”. Coba sejenak kita resapi kata-kata sederhana tersebut. Apa sebenarnya hakekat kehidupan yang selama ini kita jalani? Kita tidak akan pernah mengetahuinya. Manusia yang berada dalam posisi serba terbatas dan tidak sempurna tidak akan mampu menjangkau filosofi kehidupan yang paling tinggi. Semakin kita coba menerkanya, semakin kita akan terhalang oleh tembok keterbatasan, dan bagi sebagian orang, ini adalah titik kepasrahan serta keputus asaan mereka dalam fase pencarian hakekat kehidupan.

Bagiku, kehidupan bukan untuk diterka. Bukan pula untuk ditafsirkan semata. Kita hidup pun bukan hanya untuk menghabiskan waktu dengan mencoba mencari bagaimana cara menjalani hidup yang benar. Kita terlahir dianugrahi akal, nurani dan raga. Nurani untuk merasakan keberadaan cinta, akal untuk menyeimbangkan perasaan dan raga untuk terus berkarya demi keseimbangan alam.

Sekian 🙂

Pergerakan Mahasiswa dalam Kemelut Sejarah

Intelektual yang bebas adalah pejuang yang kesepian, selalu. Begitu kira-kira ucapan seorang Amerika kepada Soe Hok Gie, sahabatnya, yang juga seorang intelektual muda nan berani di era tahun 60-an.
Read the rest of this entry

Dinamika Kelas Pekerja

Permasalahan pekerja atau buruh dengan pengusaha merupakan salah satu sejarah perkembangan manusia yang turut memberikan pengaruh pada aspek hukum, politik, sosial, dan ekonomi. Kedudukan buruh dengan pengusaha yang jelas berbeda di mana jika kita lihat secara teori sosial kedudukan pengusaha lebih tinggi ketimbang buruh, diperlukan ketentuan untuk mencegah timbulnya pertentangan antara dua kepentingan dan latar belakang yang berbeda.
Read the rest of this entry

Berdamai dengan rapuhnya keindahan

Tak ada keabadian dalam keindahan

Sejenak aku hisap dalam-dalam sebatang rokok yang menyala di hadapanku, menampakkan bara api merah dan asap terkepul. Ditemani segelas kopi dan sebatang rokok di sore hari seperti ini terasa begitu mendamaikan diri. Aku memang pecinta kesunyian. Berdamai dengan tenangnya keadaan, namun sejatinya bergumul dengan segala bentuk pemikiran yang tak menentu. Maka dari itu, aku lebih suka tempat yang sepi daripada harus berada dalam kondisi yang ribut.

Dalam kesunyian, objek di sekitar nampak begitu nyata dan detail. Panca indera seolah bekerja lebih optimal, menangkap setiap gerak laku makhluk yang beraktivitas. Tak terkecuali benda-benda mati yang terdiam dan membisu. Tak bernafas, namun seperti berbisik meminta untuk diberi secercah perhatian. Selaput keacuhan atas keindahan mereka robek dan membuka mataku, betapa lingkungan di sekitarku menyimpan jutaan keindahan dalam sunyi. Segalanya nampak sempurna untukku.

“PING !!!” Sebuah suara khas dan lampu pijar kemerahan mengusikku dari indahnya kesenyapan sore ini. Sebuah pesan dari seseorang mencoba menggodaku untuk menjamah telepon genggam hitam itu. Aku tak peduli padanya. Cuma rasa penasaran yang terus menggelitik tangan, berusaha menghentikan tariannya di atas keyboard laptopku. Sudahlah, daripada aku diam saja dan seolah mengadu domba pikiran dan tangan ini. Lebih baik aku nikmati segelas kopi dan rokok yang sudah terbakar setengahnya.

Memang keindahan itu hanya sementara.

Selamat sore kawan 🙂

Pendidikan Anak Bangsa

Suara mereka begitu riuh menggema di ruang kecil itu. Lagu Laskar Pelangi ciptaan grup band Nidji itu pun nyaris tak terdengar sama sekali. Padahal agenda saat itu adalah menyanyi bersama.

pemilik masa depan bangsa ini

Tidak kurang dari puluhan anak usia sekolahan duduk dan saling berebut mengambil alat-alat musik yang terbatas dan seadanya. Sembari memegang kertas di mana lirik lagu tertulis, mereka coba menyanyi sambil sesekali menepuk-nepuk galon bekas air mineral di pangkuannya. Begitu ceria dan penuh kebahagiaan. Tak sedikitpun nampak raut kelelahan menggelayuti wajah lugu mereka. Padahal beberapa jam sebelumnya, mereka semua, anak-anak kecil itu bergulat dengan debu jalanan dan teriknya siang hari kota Surabaya. Ya, mereka adalah anak-anak pinggiran yang berasal dari daerah sekitar Jagir, Bendul Merisi, Tales dan sekitarnya. Anak-anak yang tidak punya cukup banyak waktu untuk bermain dan bersosialisasi dengan alam dan kawan-kawannya. Mereka yang terlalu disibukkan dengan kewajiban bekerja mencari uang sekedarnya untuk membantu perekonomian keluarga.
Read the rest of this entry

Hanya sebuah catatan di kala senggang

Intelektual yang bebas adalah pejuang yang kesepian, selalu. Begitu kira-kira ucapan seorang Amerika kepada Soe Hok Gie, sahabatnya, yang juga seorang intelektual muda nan berani di era 60-an.

Jika kita menelaah arti dari kata-kata tersebut, mungkin memang ada benarnya. Seorang Intelektual yang berpikiran cerdas dan idealis adalah pejuang bagi terciptanya sebuah perubahan. Ketika ia merasa suatu rezim kekuasaan telah melewati batas kemanusiaan dan batas-batas moralitas yang berlaku di masyarakat, mereka akan turun dan melawan. Bukan sekedar menggoreskan sketsa-sketsa pemikiran akan suatu tatanan yang nantinya ingin dicapai. Kaum intelektual muda adalah kaum pembaharu negeri. Namun, ketika rezim yang korup dan otoriter telah tumbang dan digantikan oleh pemerintahan yang baru, mereka, kaum intelektual itu, akan kembali pada habitatnya di dunia akademik.
Read the rest of this entry

Hanya sebuah Refleksi

Ideologi adalah sebuah pandangan hidup suatu bangsa. Ia bagaikan patron yang akan memberikan tuntunan ke mana arah suatu perkembangan akan dituju. Hal ini dapat tercapai ketika di setiap diri rakyat, terpatri konsep Ideologi sebagai nafas kehidupan. Maka dari itu, dibutuhkan suatu kesadaran yang tinggi mengenai hakikat ideologi itu sendiri. Bahwa ideologi haruslah dimaknai tidak hanya secara tekstual namun juga secara kontekstual.

Menumbuh kembangkan pemahaman dan rasa cinta terhadap ideologi adalah suatu hal yang sulit. Bagaimana membuat setiap insan di suatu bangsa mempunyai rasa memiliki terhadap ideologinya. Kesulitan ini pulalah yang kita hadapi bersama sebagai suatu bangsa besar yang bernama Indonesia.

Read the rest of this entry

Kebutuhan akan refleksi

Menjelang 17 Agustus, biasanya otak mulai mencair. Ya, terutamanya untuk penulis-penulis seperti aku ini. Menulis ketika mood itu datang atau menunggu hingga ada orderan entah dalam bentuk tugas kuliah maupun kepentingan organisasi. Momen-momen perjuangan bangsa kini sering menjadi momen di mana mood itu lebih sering muncul. Mungkin sekali lagi, karena terlalu sering mendapat orderan menulis dengan tema-tema tertentu. Rasanya ada sebuah dorongan yang besar untuk turut andil memeriahkan semarak ulang tahun negeri ini dengan beberapa karya tulisan.

Dari tahun ke tahun, jika momen yang disambut adalah ulang tahun negeri ini, Mayoritas tulisan cenderung akan lebih banyak beredar mengenai refleksi perjalanan negeri ini sejak lahir hingga usianya yang kian menanjak. Sebuah tulisan tentang refleksi yang lebih cocok disebut kaleidoskop. Ia hanya merangkum apa yang telah kita lakukan dan apa yang harus kita lakukan nantinya.

Lebih daripada itu, kita butuh refleksi yang memang menunjukkan kita apa adanya. Selayaknya cermin yang tak akan pernah berbohong bahkan apada tuannya. Cerminan sekaligus kritik. Bahwa sepanjang usia negeri ini, sejatinya masih banyak kekurangan yang tertutupi dan jalan kita masih panjang. Sungguh sangat panjang. Long road to glory.

The Missing Character

Ini adalah sebuah tulisan yang aku persembahkan untuk seluruh generasi muda yang mengaku masih memiliki jiwa nasionalisme dalam dirinya. Sebuah refleksi, otokritik dan juga tamparan bagi kita semua. Meskipun tidak setiap orang dapat menerima sebuah kritikan sebagai bahan pembelajaran demi terciptanya kondisi yang lebih baik kedepannya.

Sejatinya arti kegagalan bukanlah untuk dapat sekadar bangkit, tapi bagaimana kita memaknai arti kegagalan. karena mereka yang hanya bangkit dari keterpurukan sejatinya menafikkan arti kehidupan ~ me

Read the rest of this entry